KOREA TAK SEINDAH HARAPAN

JurnalTugas

Written by:

Dompet Dhu’afa dengan Program Dakwahnya mengirim beberapa Da’I pilihannya ke Negeri Gingseng selama 1 bulan penuh. Salah satu Da’I yang dikirim adalah Ustadz Suherman yang merupakan Guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 21 Jakarta sekaligus sebagai Wakil Komisi Dakwah Asosiasi Da’I da’iyyah Indonesia.

Setibanya di Korea Selatan pada hari Kamis, 9 Mei 2019 tepat pukul : 09.00. saya dan beberapa Da’I lainnya pun segera meluncur ke Masjid Itaewon dimana merupakan simbol Islamic Center bagi masyarakat Muslim di Korea Selatan. Kunjungan tersebut disambut hangat oleh Pimpinan Cabang Dompet Dhu’afa di Korea Selatan yaitu Ustadz Arifin. Dan akhirnya kami pun disambut terhormat oleh Imam Besar Masjid Itaewon yaitu DR. Rahman Lee (Alumni Madinah).

Dalam sambutannya beliau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dompet Dhuafa yang terus berkiprah menebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin melalui Da’i-Da’inya. Beliaupun berharap Islam bisa diterima dengat Hangat oleh masyarakat Korea pada Khususnya dan Dunia Pada umumnya.

Perjalananpun dilanjutkan ke tempat tugasnya masing-masing. Dan kebetulan saya (Suherman) ditugaskan di salah satu masjid yang sangat aktif kegiatannya. Berada di wilayah utara korea selatan tepatnya di daerah Baran. Masjid itu sesuai dengan salah satu nama Surga yaitu Darus Salam. Berharap Sifat-sifat penghuni surga Darus Salam melekat kepada jamaah yang memakmurkan masjid tersebut. Ungkap kata Mas Setiawan yang biasa dipanggil akrab dengan istilah Pak Bos. Beliau salah satu Dewan Penasehat Masjid Darus Salam. Sekaligus warga Indonesia yang sudah menjadi warga Korea dan mendapatkan Istri asal Korea.

Waktu berbuka pun tiba dan saya pun mengawali dengan memimpin doa berbuka. Jamaah Darus Salam dimana mayoritas mereka berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur bahkan dari Negara Uzbekistan, Kazakhstan dan Pakistan merasa hangat menyambut kedatangan saya. Saya pun ikut bergabung dengan kehangatan sambutan mereka semuanya. Disamping kamipun berbuka dengan menu ala Indonesia pada umunya yaitu Bakwan dan Es Campur.

Usai kami melaksanakan Sholat Taraweh. Dimana waktu yang berbeda dengan waktu Indonesia. Jika pukul 21.00 masyarakat Indonesia sudah selesai melaksakan taraweh berbeda halnya dengan di Korea. Kami baru memulai Shalat Taraweh pada pukul 21.00 s/d 22.00 waktu Korea. Sekitar dua jam perbedaan waktu antara Indonesia dengan Korea Selatan. Mayoritas jamaah berafiliasi dengan salah satu organisasi besar di Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama. Dimana diawali dengan Bilal dan diakhiri dengan Zikir bersama dan Salam-salaman. Amaliyah yang umum dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Ditengah-tengah Taraweh dan witir saya pun menyampaikan Kultum yang mana mengajak mereka untuk tetap berpedoman kepada Al-qur’an dan sunnah sekaligus berkomitmen pada akad persaudaraan sebagaimana Allah sampaikan dalam QS. Al-Hujurat ayat 10. Mengingat masyarakat Indonesia yang berada di Koreapun ternyata saling retak bahkan putus silaturahmi karena berbeda pilihan.

Usai melaksanakan Shalat Taraweh. Saya pun berbaur ke jamaah. Ada salah satu jamaah masjid Darus Salam yang berasal dari Purwerejo Jawa Tengah mengungkapkan Curhatannya begitu dalam. Diawali dari ketidakmampuan beliau membaca Al-qur’an bahkan sampai permasalahan keluarga beliau yang ada di Indonesia. Tidak hanya itu, beliau yang hampir satu tahun di Korea, dimana 3 bulan pertama beliau bekerja di salah satu perusahaan di Korea namun tidak diberikan Gaji/ haknya oleh perusahaan tersebut. Sehingga beliau putuskan untuk resend dari perusahaan tersebut dan akhirnya beliau menganggur sampai saat ini. Sementara beban hidup di Korea sangat tinggi. Beliaupun akhirnya menempa hidup di masjid Darus Salam berharap meringankan beban hidupnya di Korea. Saya pun menutup curhatan beliau dengan motivasi dan semnangat agar tidak putus asa menjalankan kehidupan di Negeri orang ini.

Tak terasa dua hari berjalan keberadaan saya disini. Saat kami bangun dari tidur untuk melaksanakan sahur.tepat pukul 03.00. beberapa jamaah yang bermalam di masjid Darus Salam diperkirakan hampir 30 orang terbangun kaget karena mendengar bunyi sesuatu yang sangat keras. Kami pun penasaran mencoba buka jendela dan ternyata saudara kami (seseorang yang curhat dengan saya 2 malam lalu) jatuh dari lantai 4. Polisi dan Ambulance pun sigap dan cepat sehingga beliau langsung dimasukkan ke mobil ambulance. Sementara kami yang melihat hanya bisa termenung melihat tubuh saudara kami yang berlumuran darah diangkat masuk ke mobil Ambulance. Karena Prosedur kepolisian di Korea seperti itu. Tidak boleh satupun menyentuhnya sebelum adanya otopsi dari kepolisian.

Tepat pukul 07.55 kami pun mendapat kabar bahwa beliau sudah wafat. Dengan cepat kami menghubungi KBRI dan keluarganya di kampung. Namun kendala biaya akhirnya Jenazah saudara kami tidak bisa dikeluarkan sebelum adanya tebusan. Sangat mencengangkan ketika kami mendengar biaya yang harus dikeluarkan untuk menebus Jenazah saudara kami. Sekitar 14 juta won yang jika dirupiahkan sekitar 200 juta rupiah. Kamipun mencoba menggalang dana dan membuka jaringan ke beberapa masjid di Korea agar membantu perihal penebusan jenazah tersebut. Dan Alhamdulillah dalam waktu 2 hari dana terkumpul sekitar 10 juta won dimana kekurangannya ditanggung oleh pihak KBRI. Jenazah akan diambil dan disholatkan sekaligus diterbangkan ke kampung halamannya esok hari Selasa, 15 Mei 2019.

Pelajaran Mahal yang dapat diambil adalah bahwa penghasilan banyak namun jauh dari keluarga belum bisa membuat kita merasakan Nikmatnya Kebersamaan. Kenikmatan Allah berikan pada saat mereka sudah bertemu dengan keluarganya. Namun jika pertemuan itu sudah terpisahkan oleh Alam yang berbeda maka apalah daya. Hanya keikhlasan dan Doa yang selalu membasahi disetiap harapan. Semoga Almarhum diterima amal ibadah solehnya, diampuni segala salah dan dosanya dan dimuliakan kedatangannya.

  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *