DAHSYATNYA BERITA HOAX

Aqidah AkhlaqJurnalPendidikan Karakter

Written by:

Ibunda Aisyah Radiyallahu Anha pernah diisukan sebuah berita hoax yaitu melakukan perselingkuhan dengan seseorang bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwan oleh seorang munafik bernama Abdullah bin ubay bin Salul dan hampir saja Rasulullah SAW percaya hal itu, jikalau tidak ada QS An-Nur: 11-20 turun, kisah yang dikenal dalam sejarah dengan حديث الإفك.

Khalifah ke-3 Sahabat Utsman bin Affan Radiyallahu Anhu beliau wafat terbunuh juga karena diisukan berita hoax melakukan KKN, hal yang sama juga terjadi pada khalifah ke-4 Sahabat Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljam juga karena si pembunuh termakan berita hoax bahwa beliau melanggar hokum Allah Swt.

Negara Syria, Yaman, Lybia, dan Iraq hancur lebur, sesama bangsa sendiri yang saling berperang sampai saat ini juga karena penduduknya masing-masing termakan berita hoax sejak Arab Spring, Mesir juga hampir saja terpecah penduduknya karena berita hoax tersebut.

Alquran mengajarkan kita terkait dengan berita hoax

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ )
Wahai orang-orang yang beriman ! Sekiranya datang kepada kalian orang fasiq dengan satu berita, hendaklah kalian selidiki (tabayyun) supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian.” [Q.S. 49 : 6]

Asbabun nuzul : Para mufassir (`ulama’ tafsir) menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan kerana Al-Walid bin `Uqbah, ketika beliau diutuskan oleh Rasulullah SAW kepada Bani Mushthaliq untuk memungut zakat. Di pertengahan jalan, timbul rasa takut dalam hati beliau terhadap Bani Mushthaliq, lalu beliau kembali kepada Rasulullah, dan melaporkan bahawa Bani Mushthaliq tidak mau menyerahkan zakat, malah ingin membunuhnya. Setelah diselidiki, ternyata laporan itu adalah dusta semata-mata.

Ayat ini sepatutnya menjadi pegangan seluruh umat Islam dalam berinteraksi dengan berita yang sampai kepada mereka. Jangan sampai kita sebagai akademisi, agamawan (Kyai, Ustaz, Dai, Muballigh), Toga (tokoh Agama), Tomas (Tokoh Masyarakat), aktivis, politisi, negarawan mudah dikecoh dan mudah reaksioner oleh berita-berita yang belum jelas tanpa melakukan check dan Recheck.

Lalu Tabayyun-nya bagaimana?
Kalian pasti lebih paham dibandingkan saya. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : …………..وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (البخارى مسلم)
Dari Abu Hurairah Radiyallahu Anhu, Rasulullah SAW bersabda : …..Dan Siapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari Akhirat, maka berkatalah yang baik atau diam saja (HR Bukhari Muslim).
Berkata yang baik bisa via tulisan atau perkataan, diam, bisa mulut yang diam atau Diamnya tangan dengan tidak asal nge-share.
Dengan begitu memang kita perlu memliki literasi media sosial dengan baik, percepatan perkembangan dunia maya saat ini kalau tidak diimbangi dengan kemampuan literasi yang cukup, Nenek bilang itu berbahaya hey hey hey Nenek bilang itu berbahaya kata Nenek Titik Puspa dalam lagunya “Marilah Kemari”. Hey hey hey….

  •  
    1
    Share
  • 1
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *